Tips

Menulis yang Serius, bukan Asal Tulis

Menulis memang mudah. Tentunya, menulis yang tidak by desain, by data, ataupun by yang lain. Bahkan, kalau menulis yang model populis yang ‘asal’ nulis tentunya slogan satu kedipan mata jadi tuh tulisan.
Ugal-ugalan banget itu. Masak, nulis satu kedipan mata langsung jadi. Simlabim. Jadilah tulisan. Memang sih, kalau di model menulis yang asal tulis lebih mudah dibandingkan dengan menulis yang sungguhan.
Menulis yang sungguhan atau menulis yang bukan asal tulis memiliki standar berikut.
1. Tulisan yang berdasarkan fakta ataupun fenomena yang terjadi di lapangan.
2. Tulisan merupakan gagasan yang berorientasi pada spesial isu atupun trending isu.
3. Tulisan mampu menawarkan wawasan yang memiliki kadar novelties dan memberikan wawasan baru dalam dunia pengetahuan ataupun yang lain.
4. Tulisan yang memiliki historical background yang jelas, berdasarkan data teoretis ataupun empiris dan ditunjang oleh evidensi yang kuat.
5. Tulisan yang tidak hanya omong doang (omdo).
6. Tulisan yang memiliki solusi atupun resolusi berdasarkan fakta dan fenomena kehidupan keseharian.
Jika kita nulis yang biasa saja, ibaratnya seperti nulis komentar di instagram dan di wa. Cepet dan satu kedipan mata sudah banyak komentar kita munculkan. Berikut contoh tulisan populer, tetapi masih kategori serius.

Melawan Alienasi Lingkungan?
Isu lingkungan memang tak se-ngetren isu politik. Kita bisa mencermati bagaimana respon masyarakat tatkala hutan terbakar (sengaja dibakar atau terbakar). Hutan dieksplorasi habis-habisan. Kesannya, kita tidak sepanik ketika harga BBM naik atau isu tentang rasial. Padahal, hutan adalah masa depan manusia. Tanpa hutan, manusia tidak akan berdaya apa-apa. Bayangkan, jika kelak semua hutan gundul, penyuplai oksigen tiada. Bisa dipastikan manusia menjemput ajalnya. Ataukah, kita berandai-andai seperti film anak, Dr. Deuss The Lorax (2012), mengisahkan Thneedville, kota yang penuh dengan rumput plastik, ikan plastik, pohon plastik, dan bunga plastik. Dalam kehidupan keseharian, mereka harus beli oksigen galon. Pertanyaannya, berapa banyak uang yang harus dihabiskan untuk beli oksigen?
Studi yang dilakukan oleh Jacoby (2001), White (2008), dan Liddik (2011) menunjukkan bahwa eksplorasi dan eksploitasi lingkungan (environment) setiap tahun semakin meningkat. Eksplorasi dan eksploitasi lingkungan itu, kata Cianchi (2015) disebut dengan istilah “green criminology”.
Indonesia juga tidak lepas dari permasalahan perusakan lingkungan. Hidayat (2016), Praja (2016), Fauzi, dkk. (2010) mengidentifikasi bahwa deforestasi dan pembakaran hutan di Indonesia makin lama makin parah.

Alienasi Lingkungan dan Kehidupan Keseharian Kita
Istilah alienasi (alienation) mulanya dikenalkan dalam bidang ekonomi. Marx (1932) dalam bukunya, The Economic and Philosophical Manuscripts menyebut “alienation of the workers” yang meliputi kesendirian (loneliness), objektifikasi buruh (objectification of labor), dan perbudakan (bondage). Pada tahun-tahun berikutnya, Fromm menggunakan istilah alienasi dalam bidang psikologi yang diadaptasi dari Marx. Karena itu, sebagai seorang psikoanalis, Fromm dianggap psikoanalis-Marxian sebab karya-karyanya dipengaruhi oleh pemikiran Marx. Agak berbeda dengan Marx dalam memandang alienasi, Fromm (1947) dalam bukunya, Man for Himself memaparkan bahwa tidak hanya dalam ekonomi saja manusia mengalami alienasi, tetapi dalam juga dalam hubungan (relation) antara manusia dengan manusia yang lainnya. Manusia modern tercerabut akarnya dari rasa sensibilitas kebersamaan dengan manusia yang lain. Mereka lebih suka dengan hal-hal yang memprivasi daripada yang bersifat komunal. Dari konteks ekonomi, filsafat, dan psikologi, alienasi dalam pandangan Jaeggi (2014) yang ditulis dalam bukunya, Alienation, memiliki core yang sama yaitu “a relation of relationlessness”, relasi tanpa relasi.
Fromm (1976) dalam artikelnya, “The Will to Live” mengamati kerusakan lingkungan yang sebenarnya dapat mengancam kehidupan di bumi. Kerusakan lingkungan yang dilakukan oleh manusia. Namun, mereka kadang tidak melakukan apa-apa. Mereka lebih mementingkan kepentingan diri sendiri daripada kesejahteraan masyarakat. Kerusakan lingkungan tersebut, sebenarnya disebabkan oleh alienasi manusia terhadap lingkungan. Hailwood (2015) dalam bukunya, Alienation and Nature in Environmental Philosophy, mengungkapkan bahwa alienasi lingkungan berkait dengan hubungan relasional manusia dengan lingkungan, baik human ataupun nonhuman (binatang, tumbuhan, hutan, laut). Terma kunci dari alienasi lingkungan berkait dengan keterasingan manusia pada lingkungan.
Baiklah, mari kita bersama-sama melihat beberapa fakta alienasi lingkungan di Indonesia. Pertama, hasil riset Yokom (2015) tentang “Kerusakan Lingkungan Akibat Pembangunan Rakyat” menunjukkan bahwa pembangunan perumahan rakyat pada era Presiden Jokowi memakan 5068 km2, akibat perluasan perumahan luas hutan akan semakin berkurang 200 km2 /tahun. Artinya, program kerja Presiden Jokowi untuk membuat rumah murah dimungkinkan menambah kerusakan lingkungan khususnya di Pulau Jawa.
Kedua, laporan dari Kementerian Lingkungan Hidup (2013) menunjukkan bahwa pencemaran air sungai dari tahun ke tahun meningkat. Simak saja, air sungai Jakarta yang kadar pencemarannya mencapai 80%. Dengan demikian, kadar pencemaran air sungai di Jakarta masuk dalam kategori parah.
Ketiga, pemberitaan di Jawa Pos (19/1) yang berjudul “Kurus karena Kurang Terurus” yang memaparkan kondisi binatang di Kebun Binatang Bandung yang mengenaskan. Kondisi mengingatkan kita pada kebun binatang lainnya, misal kasus daging untuk konsumsi binatang, tetapi dijual ke penjual rawon.
Ketiga fakta tersebut menunjukkan bahwa manusia modern memang benar-benar teralienasi dengan lingkungan. Manusia lebih berorientasi pada kepentingan dirinya daripada kepentingan alam (nature) sebagai kesatuan yang holistis. Manusia dalam konteks ini lebih mengikuti mazhab psikologi humanistik yang berfalsafah bahwa manusia adalah penguasa alam. Padahal, jika merujuk pada ecopsychology, psikologi lingkungan (environmental psychology) manusia adalah bagian dari lingkungan. Karena itu, keduanya merupakan interseksi yang saling bersimbiosis. Jika lingkungan rusak, manusia juga akan rusak dan sebaliknya.

Melawan Alienasi Lingkungan
Alienasi lingkungan memang menjangkiti manusia modern. Namun, ada tiga cara jitu melawan alienasi lingkungan.
Pertama, marilah kita melihat diri kita sendiri. Sudahkah kita melawan alienasi lingkungan? Apakah kita pemelihara (care for) binatang dan tumbuhan? Apakah kita phobia pada binatang atau tumbuhan? Apakah rumah kita berkonsep eco-house ataukah rumah yang “kering” tanpa taman, pepohonan, ataupun binatang.
Kedua, pemerintah yang prolingkungan. Jangan sampai, pemerintah pro kepada korporat yang menebang hutan, mereklamasi, dan mengebor minyak bumi dengan dalih kemaslahatan manusia. Padahal, kesemuanya hanya demi kepentingan pragmatisme saja.
Ketiga, masyarakat yang mencintai dan merawat lingkungan. Jika ketiganya, kita, pemerintah, dan masyarakat berkolaborasi, alienasi lingkungan bisa ditumbangkan!
(Artikel ini pernah dimuat di Opini Jawa Pos, Februari 2017[oleh: Anas Ahmadi])

About the author

Anas Ahmadi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.