Tips

Menulis, Etika, dan Plagiasi

Pelahiran Etika

Studi tentang etika sudah dilakukan sejak lama. Bahkan, ditengarai muncul sejak zaman Yunani kuna. Hal itu tampak pada karya Aristoteles (384—322 SM) yang berjudul Ética Nicomáque. Dalam pandangan Aristoteles, perpaduan dua kebajikan (virtue), yakni intelektual dan moral yang dijadikan sebagai habit, itulah yang disebut dengan etika (ethics) (Aristoteles, 1999:21).

Tujuan dari penerapan etika dalam pandangan Aristoteles tersebut adalah eudemonia. Melalui eudemonia tersebut, manusia akan menjadi sosok human virtue yang memiliki jiwa altruisme dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Etika konteks filosofis mengarah pada dua hal, yakni biophilia (Wilson, 1984), hasrat membangun dan necrofilia (Agrawal, 2011), hasrat merusak.

Dalam perkembangan isu terkini, banyak yang menulis tentang etika, salah satunya adalah etika yang dihubungkaitkan dengan pendidikan. Penulis tersebut, misal Bottery (2001) yang mengintroduksi tentang etika, pendidikan, dan lingkungan; Grenee (2007) etika dalam pendidikan (calon) penguasa; Codling (2010) yang membahas tentang etika dalam dunia pendidikan Kristiani dan eskatologi; Shapiro dan Stefkovich (2011) yang membahas tentang etika pemimpin dalam pendidikan melalui paradigma etika keadilan, etika perlindungan, dan etika kritik.

Istilah etika dan moral dalam perjalanannya mulai dibedakan. Etika berasal dari bahasa Yunani ethos dan bentuk jamak ta etha yang artinya adat dan kebiasaan. Moral berasal dari bahasa latin Mos (jamak: mores) yang artinya kebiasaan, adat (Bertens, 2002:3—5).

Etika lebih dekat dengan studi filsafat, sedangkan moral lebih dekat dengan kajian sosiologi. Etika lebih pada pemikiran, sedangkan moral lebih pada tingkah laku. Meskipun demikian, istilah etika dan moral terkadang masih tumpang-tindih dalam penggunaannya.

Dalam kaitannya dengan etika konteks pendidikan, salah satu wacana pentingnya adalah etika yang berkait dengan otonomi (Crittenden, 2010:72; Paterson, 2010:24). Otonomi individual dalam kebebasan pendidikan sangatlah diperlukan pada zaman globalisasi seperti sekarang ini. Hal itu juga didukung oleh Unesco dalam World Declaration Education for All (1990) bahwa pendidikan harus mendukung otonomi, kebebasan, etika, dan pendidikan untuk semua. Etika dalam pendidikan memang sangat diperlukan sebab pendidikan membutuhkan etika dan etika bisa dipelajari melalui pendidikan.

Di Perguruan Tinggi di Indonesia, etika juga harus dijunjung tinggi. Etika di perguruan tinggi tidak lepas dari tridarma pendidikan. Dosen memiliki tiga tugas utama, yakni mengajar, meneliti, dan mengabdi. Melalui ketiga hal tersebut diharapkan dosen menjadi sosok yang profesional. Namun, fakta di lapangan tidak demikian adanya. Ada dosen hanya mengajar saja dan tidak pernah meneliti, menulis buku, atau bahkan menulis jurnal (apalagi jurnal internasional) ataupun melakukan pengabdian pada masyarakat.

Meskipun demikian, dosen terkadang merasa dirinya sebagai ‘dewa’ yang tak pernah punya celah, selalu merasa benar. Padahal, pembenaran yang dilakukan oleh mereka semakin menunjukkan ketidakbenaran dalam dirinya.

Dalam konteks etika, ketika kita mengatakan A kepada murid kita, kita pun juga harus melakukan itu. Jangan sampai, kita menyuruh murid-murid kita melakukan A, tetapi kita tidak pernah melakukan hal tersebut.

Fakta ini pernah ditulis oleh Samani (2014) yang salut pada etika seorang kiai di Pasuruan. Waktu itu, sang kiai memberikan materi lima belas menit. Padahal, waktunya masih banyak. Setelah ditanya panitia, kiai tersebut menjawab bahwa beliau belum bisa mengajarkan materi yang selanjutnya sebab beliau belum mampu melakukannya. Itulah etika yang sebenarnya, komposisi antara moral dan intelektual, bukan intelektual saja.

Etika dan Plagiarisme di Indonesia

Pelanggaran etika di Perguruan Tinggi, salah satunya adalah plagiarisme. Plagiasi ialah the use of ideas, concepts, words, or structures without appropriately acknowledging the source to benefit in a setting where originality is expected (Fisman dalam Gipp, 2014:7). Pecorari (2010:11) mengistilahkan plagiasi dengan “kidnap”. Gipp (2014:12—13) mengemukakan bentuk plagiarism di kalangan akademisi, yakni literal plagiarism (copy and paste, shake and paste); disguised plagiarism (Paraphrasing, Technical disguise, Translated plagiarism, Structural and idea plagiarism, Self-plagiarism). Gipp (2014:62) juga memaparkan lima software profesional plagiarism detector, yakni Plagiarisma, Urkund, Turnitin, Ephorus, dan Plagaware. Berdasarkan riset Gipp, dari tujuh disertasi yang diujicoba dengan software plagiasi, 3 diduga kuat plagiat.

Di dunia, kasus plagiasi yang mencuat, misal kasus Barrack Obama yang diduga memplagiasi pidato Gubernur Massachusetts Deval Patrick (2008); Stephen Ambrose yang menulis buku The Wild Blue: The Men and Boys Who Flew Who Flew the B-24s over Germany ternyata menjiplak buku Wings of Morning: The Story of the Last American Bomber Shot Down over Germany in World War II, oleh Thomas Childers; Jason Blair seorang jurnalis New York Times (2003) melakukan fabrikasi, sekitar 600 artikel (http://www.online classes.org/resources/top-10-plagiarism-scandals-of-all-time).

Pelaku plagiarisme adalah kalangan akademisi, dalam artikel ini lebih difokuskan pada dosen. Diakui atau tidak, saat ini marak plagiasi di kalangan dosen. Untuk itu, Mendiknas memunculkan UU No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Plagiasi di Perguruan Tinggi. Dalam pasal 1 dijelaskan sebagai berikut.

  1. Plagiat adalah perbuatan secara sengaja atau tidak sengaja dalam memperoleh atau mencoba memperoleh kredit atau nilal untuk suatu karya ilmiah, dengan mengutip sebagian atau seluruh karya dan/atau karya ilmiah pihak lain yang diakui sebagai karya ilmiahnya, tanpa menyatakan sumber secara tepat dan memadai.
  2. Plagiator adalah orang perseorangan atau kelompok orang ;pelaku plagiat, masing-masing bertindak untuk diri sendiri, untuk kelompok atau untuk dan atas nama suatu badan.
  3. Pencegahan plagiat adalah tindakan preventif yang dilakukan oleh Pimpinan
  4. Perguruan Tinggi yang bertujuan agar tidak terjadi plagiat di lingkungan perguruan tingginya.

Adapun plagiasi dalam UU tersebut, dipaparkan di Bab 2 yakni sebagai berikut.

  1. Plagiat meliputi tetapi tidak terbatas pada:
    a. mengacu dan/atau mengutip istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa menyebutkan surnber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
    b. mengacu dan/atau mengutip secara acak istilah, kata-kata dan/atau kalimat, data dan/atau informasi dari suatu sumber tanpa rnenyebutkan sumber dalam catatan kutipan dan/atau tanpa menyatakan sumber secara memadai;
    c. menggunakan sumber gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
    d. merumuskan dengan kata-kata dan/atau kalimat sendiri dari sumber kata-kata dan/atau kalimat, gagasan, pendapat, pandangan, atau teori tanpa menyatakan sumber secara memadai;
    e. menyerahkan suatu karya ilmiah yang dihasilkan dan/atau telah dipublikasikan oleh pihak lain sebagai karya ilmiahnya tanpa menyatakan sumber secara memadai.
  2. Sumber sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas orang perseorangan atau kelompok orang, masing-masing bertindak untuk diri sendiri atau kelompok atau untuk dan atas nama suatu badan, atau anonim penghasil .satu atau lebih karya dan/atau karya ilmiah yang dibuat, diterbitkan, dipresentasikan, atau dimuat dalam bentuk tertulis baik cetak maupun elektronik.
  3. Dibuat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa: a. komposisi musik; b. perangkat lunak komputer; c. fotografi; d.lukisan; e. sketsa; f. patung; atau g. hasil karya dan/atau karya ilmiah sejenis yang tidak termasuk huruf a, huruf b,huruf c, huruf d, huruf e, atau huruf f
  4. Diterbitkan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa: a. buku yang dicetak dan diedarkan oleh penerbit atau perguruan tinggi;b. artikel yang dimuat dalam berkala i1miah,majalah, atau surat kabar;c. kertas kerja atau makalah profesional dari organisasi tertentu;d. isi laman elektronik; atau e. hasil karya dan/atau karya i1miahyang tidak termasuk huruf ej, huruf b, huruf c, dan huruf d.
  5. Dipresentasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa: a. presentasi di depan khalayak umum atau terbatas; b. presentasi melalui radioltelevisi/video/cakram padat/cakram video digital; atau c. bentuk atau cara lain sejenis yang tidak termasuk dalam hurufa dan huruf b.
  6. Dimuat dalam bentuk tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) berupa cetakan dan/atau elektronik.
  7. Pernyataan sumber memadai apabila dilakukan sesuai dengan tata cara pengacuan dan pengutipan dalam gaya selingkung setiap bidang ilmu,teknologi, dan seni.

Di Indonesia, plagiarisme terjadi tidak hanya di kalangan mahasiswa, tetapi terjadi juga di kalangan guru, dan dosen. Maraknya plagiarisme di Indonesia menunjukkan bahwa etika dalam dunia akademisi belum optimal. Faktanya, integritas, mutu tinggi, profesionalisme, belum semuanya menjadi tindakan, tapi masih sebatas ungkapan. Namun, kita juga patut berbangga pada pemerintah sebab para pelaku kejahatan akademis, yakni plagiasi diberi sanksi berupa penurunan jabatan, pencopotan gelar, tetapi untuk kasus pidana masih belum.

Penulis ingat ungkapan Menkumham sewaktu Kongres Bahasa Indonesia ke-7 di Jakarta, “Jangankan buat Undang-Undang Bahasa, lha wong buat Undang-Undang Hukum saja masih banyak yang melanggar.” Semoga, kita tidak menjadi sosok plagiaris.

Rujukan

Aggrawal, Anni. Necrophilia: Forensic and Medico-Legal Aspect. London: Taylor & Francis Group, 2011.
Aristoteles. 1999. Nichomachean Ethics. Translated by WD Ross. Kitchener: Batoche Books. www.constitution.org.
Bertens, K. 2002. Etika. Jakarta: Gramedia.
Bottery, M. 2001. Education, Policy, and Ethics. London: Continum.
Codling, J.L. 2010. Calvin: Ethics, Eschatology, and Education. London: Cambridge.
Crittenden, B. 2010. Autonomy as an Aim of Education in Strike, K.A. & Egan, K. (ed.). Ethics and Educational Policy. London: Routledge.
Gipp, B. 2014. Citation-based Plagiarism Detection. Berkeley: Springer.
Greene, R. 2007. Kekuasaan. Diterjemahkan oleh Amelia Listiani. Jakarta: Karisma.
Okezone.com. plagiarisme di Indonesia (online), diunduh tanggal 25 Februari 2016.
Paterson, R.W.K. 2010. Values, Education, and the Adult. London & New York: Roudledge.
Pecorari, D. 2010. Academic Writing and Plagiarism. New York: Continum.
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional. 2010. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2010. Pencegahan dan Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi.
Samani, M. 2014. Maaf, masih Compang-Camping. Surabaya: Unesa Press.
Shapiro, JP. & Stefkovich, JA. 2011. Ethical Leadership And Decision Making In Education. London: Routledge.
World Declaration Education for All (1990) (Online), (http://www.unesco.org) diakses 28 Januari 2016
Wilson, Edward O. Biophilia: The Human Bond with Other Spesies. London: Harvard University, 1984.
http://www.online classes.org/resources/top-10-plagiarism-scandals-of-all-time diunduh tanggal 25 Februari 2016.

About the author

Anas Ahmadi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.