Tips

Cara Menulis ala Budi Darma

Menulis memang banyak cara. Menulis memang banyak taktik. Menulis memang banyak teknik. Salah satu sastrawan Indonesia yang menjadi idola saya dalam masalah kepenulisan adalah Prof. Budi Darma.
Siapa yang tak kenal dengan Budi Darma? Siapa yang tak kenal dengan Olenka, Rafilus, dan Nyonya Talis. Siapa yang tak kenal dengan Kritikus Adinan dan Orang-orang Blomington? Kesemuanya adalah karya beliau (novel/cerpen).
Beliau sangat hen lihai [bhs Tiongkok] dan mumpuni dalam bidang teori, kritik, dan sebagai sastrawan. Selain itu, beliau juga menjadi dosen di Universitas Negeri Surabaya. Sungguh keseimbangan yang ‘manis’. Sangat jarang orang yang mampu menyeimbangkan hal yang demikian. Tentunya, tak lupa kita berkiblat pada Freud bahwa seseorang yang memiliki kemampuan pastilah ada sisi kompensasi dibalik itu. Namun, tampaknya, hal tersebut tidak tepat sasaran jika diarahkan pada Budi Darma.
Baiklah, jika bicara menulis ala Budi Darma ada beberapa point yang masih terngiang dibenak saya
• Menulis adalah obsesi. Karena itu, jika tidak menulis, di dalam otak seolah-olah berkelijatan hal-hal yang ingin ditulis.
• Menulis adalah keuletan dan proses, bukan bakat. Karena itu, untuk menemukan moment, harus dicari, bukan ditunggu sampai muncul.
• Tulisan yang baik itu sebenarnya hanya ada di dunia ide, jika sudah muncul ke permukaan, menjadi tidak baik.
Menulis ala Budi Darma tersebut tentunya merupakan hasil tafsir saya tatkala mengikuti diskusi ataupun dalam perkuliahan beliau. Karena itu, penambahan dan pengurangan tentulah muncul.
Baiklah, jika sekarang sudah memahami cara menulis ala Budi Darma, bagaimanakah cara menulis ala kalian sendiri. Waktunya mencoba, sekarang!

About the author

Anas Ahmadi

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.